Rabu, 29 Agustus 2018

Rahmiana Rahman (Ammy)

Ammy, yah namanya Ammy. Kalau ditanya kawan yang selalu ada, kapanpun, yah dia lah orangnya.

Pertama kali bertemu Ammy di tahun 2006. Kami berada di Universitas yang sama, Fakultas dan Jurusan yang sama, hingga kelas yang sama. Kelas C (British Inside). 
Dan saya masih ingat waktu dia memperkenalkan diri depan kelas pake baju ikoniknya yang warna hijau garis-garis (itu warna favoritnya), "... teman-teman boleh panggil saya Ammy atau Cherry." 
Dan dalam hati "Ya Allah, bisa saya minta sedikit kePDannya."
Beberapa semester berlalu begitu saja, yah saya cuma tau kalau dia teman sekelas saya dan orangnya baik. Hingga di semester 5, kami berada dalam kelompok yang sama ditambah Fira (Alfirawati Bakri). Nah sejak saat itu mulai kumpul bareng, saling mencari karena kepentingan tugas, mulai makan bareng, dan saya dapat tebengan yah lumayanlah, waktu itu Ammy sering kasi tumpangan sampai Sudiang, nah disitu mulai ketemu dengan ceritanya. Yah begitulah....
Sejak saat itu sudah mulai sama-sama, mulai penelitian skripsi, sampai yudisium dan wisuda sama-sama. 
Ammy itu inspiratif, why? Sebelum dia sukses seperti sekarang, yah saya sangat menghormati teman saya yang satu ini. Saya masih ingat waktu diceritain kisah keluarganya yang sangat mengharukan, and see, saya bangga bisa liat teman saya ini banggain keluarganya dan orang-orang di sekitarnya, bukan dari bantuan siapa-siapa, tapi dari usaha dia sendiri. 
Bersama Ammy banyak waktu yang dilalui bersama, termasuk sama-sama lanjut S2 dan Alhamdulillah di kelas yang sama. Di masa-masa ini, banyak hal yang dikerjakan bersama, mengejar mimpi bersama. Tentu saja Ammy selalu di depan dengan perkara macam ini. Saat itu saya masih fokus dengan mengajar saya dan tentu saja dia selalu fokus dengan kegiatannya yang beragam mulai dari jadi aktivis, enterpreneur dan guru asrama. Tapi tetap kalau sudah masalah hati dengan hubungan yang masih belum direstui (pada saat itu) dia bisa nangis juga. Tapi syukurlah ujian cinta sudah belalu yah Mmy.

... berpisah
Ada saat saya berpikir bahwa mungkin hidup akan seperti ini saja. Tapi tidak begitu. Di penghujung September 2015 ketika saya harus berangkat atau lebih tepatnya pindah ke kota baru, baru terasa kalau saat-saat itu akan berubah. Kebetulannya, saat yang sama Ammy juga akan berangkat training ke Jakarta sebelum bertolak ke Amerika untuk program YSEALInya. Ammy berangkat duluan, tapi saat itu kulihat dia belum menyadari jika pas kembali nanti kami tidak akan ada di kota yang sama lagi. Kuantarlah dia ke Bandara, tak berani kuantar dengan air mata jadi kutahan. 
Jadilah long distance friendship sejak saat itu. Chat selalu diawali dengan rindu yah, tapi nda apa-apa karena kalaupun ada masalah bisa saling membantu walaupun dengan modal opini saja. 

...dia menikah
Oktober 2017 kemarin, Ammy menikah Alhamdulillah happy ending dengan Bang Romy, terus pindah ke Aceh. Dia ingkar dengan janjinya yang akan stay di Makassar dulu 2 tahun abis itu baru nanti mikirin pindah. Dari awal memang kupikir mustahil. Maka berubahlah jarak persahabatan yang tadinya cuma 1163 km menjadi 3522 km. Jauh toh. tapi kalau perkara jauh itu sudah biasa karena kalau butuh tinggal ambil hp, selesai. Tapi itu lah bagusnya Ammy, dimanapun masih tetap sama, cuma konversi dari guru asrama ke ibu rumah tangga tapi pasti dengan versi sibuk dengan kegiatan aktivisnya. Mantap jiwa deh. Oh iya, saya masih ngutang hadiah pernikahan yang masih kusimpan. 
Tetap sehat yah...